Ketika yang lain, para suami biasa dilayani istri. Dibuatkan
kopi atau secangkir teh hangat. Sang suami dipijit istri setelah
seharian lelah bekerja.
Tapi yang satu ini beda. Sang suami justru melayani sang istri. Pagi-pagi, ia memilih untuk sholat subuh di rumah sedang sang istri tak pernah ketinggalan sholat jamaah di masjid. Setelahnya, sang suami menjerang air untuk membuat teh. Ya, teh untuk dirinya dan tentu saja untuk istri tercintanya. Pulang dari masjid, istri khusyuk dalam tausyiah di depan layar kaca, sedang sang suami sibuk menanak nasi untuk sarapan pagi. Sekitar jam 6 barulah istri beranjak untuk membuat sayur ataupun lauk sebagai teman nasi di pagi hari. Maklum, sang suami ini tak pandai memasak sayur, jadi ia menunggu saja istri memasakkan untuknya. Jika tak ada, ya, berlapar-lapar adalah pilihan tiada dua. Terkadang, ketika sang suami pulang dari bekerja, istri meminta pijit darinya. Tanpa keluh, ia melakukannya.
Tapi yang satu ini beda. Sang suami justru melayani sang istri. Pagi-pagi, ia memilih untuk sholat subuh di rumah sedang sang istri tak pernah ketinggalan sholat jamaah di masjid. Setelahnya, sang suami menjerang air untuk membuat teh. Ya, teh untuk dirinya dan tentu saja untuk istri tercintanya. Pulang dari masjid, istri khusyuk dalam tausyiah di depan layar kaca, sedang sang suami sibuk menanak nasi untuk sarapan pagi. Sekitar jam 6 barulah istri beranjak untuk membuat sayur ataupun lauk sebagai teman nasi di pagi hari. Maklum, sang suami ini tak pandai memasak sayur, jadi ia menunggu saja istri memasakkan untuknya. Jika tak ada, ya, berlapar-lapar adalah pilihan tiada dua. Terkadang, ketika sang suami pulang dari bekerja, istri meminta pijit darinya. Tanpa keluh, ia melakukannya.






