Pages

Ads 468x60px

Senin, 31 Desember 2012

Kehati-hatian Memilih Makanan


Siapa ya yang tak doyan makan? Kayaknya semua orang doyan makan, cuma bedanya adalah ada tipe orang yang doyan makan itu tak tanggung-tanggung, alias semua bisa masuk perut, hehe. Ada juga yang doyan makan tipe pilih-pilih, ini bagi orang yang perutnya sensitif. Ada pula yang mencoba tak doyan makan, katanya diet begitu.
Cerita tentang makanan, pasti setiap hari kita menemuinya. Buat orang Indonesia, menu utama biasanya nasi, terkadang bisa roti juga. Kalau kita sedang keluar, biasanya suka jajan kan. Warung makan berjejer di pinggir jalan seakan melambai-lambai untuk dikunjungi, dan kita terpesona untuk melewatkannya. Mie ayam, bakso, tongseng, sate, gulai, soto, siomay, batagor, ketoprak, dan kawan-kawannya. Es campur, kelapa muda, es pisang ijo, jenang grendul, dan sahabat-sahabat mereka.
Bagi pribadi, jajanan tadi memang sangat menggiurkan juga. Misal lagi panas-panasnya siang hari, pasti enak sekali minum es campur. Atau kalau lagi hujan, enaknya minum kopi atau makan bakso, hehe. Kadang pula pengen banget makan di bebakaran atau lapak pinggir pantai. Tapi ternyata, saya adalah orang yang sangat sensitif terhadap makanan-minuman yang saya konsumsi.
Suatu kali, pernah ke satu pantai di sudut Bantul bersama kawan-kawan kelas. Rasanya seneng banget bisa jalan-jalan bersama sambil menikmati ikan bakar. Pikir saya, kan ikan lebih sehat dibanding ayam atau daging, jadi tak apa lah. Memang awalnya baik-baik saja, tapi begitu sampai rumah, mendadak perut protes. Seakan ia tak mau mencerna ikan bakar itu. Wallahu a’lam.
Kali kedua, dalam sehari saya jajan bakso dua kali, hehe. Karena ditraktir, masak ya ditolak, kan rejeki. Sore hari tiba-tiba badan berasa tak nyaman dan malam harinya demam dan muntah-muntah. Nah, mungkin ini adalah cara-NYA untuk menjaga sehatnya tubuh. Coba cermati saja kalau penjual bakso-bakso biasa meracik semangkuk pesanan kita, pasti mereka bumbui dengan MSG, bumbu masak kata orang ndeso. Nah, yang ini kalau kebanyakan bikin rusak otak kita (silakan pembaca cari artikel sendiri ya terkait ini, hehe). Kalau orang yang sensitif, biasanya dia langsung pusing, bahkan ada yang sampai pingsan juga. Hiiiii, masyaAllah.
Kesempatan lain, saya terkadang tergiur juga dengan mie instan. Bagaimana tidak? Kemunculan iklannya yang berkali-kali dalam sehari itu membuat otak kita memerintah untuk mencoba. Awalnya, ah, cuma sekali ini doang. Selanjutnya, ah kan cuma jarang-jarang kok. Lama-kelamaan jadi ketagihan. Dulu memang sempat ketagihan mie instan, sepekan bisa sampai tiga kali (ini sudah terlalu banyak kawan!). Apalagi kalau pas puasa ramadhan, ibu dengan sengaja menyediakan satu dus untuk satu bulan. Suatu saat, perut benar-benar menolak berbagai jenis mie, terutama mie instan dan mie ayam. Perut dibuat melilit bak diperas. Sakitnya bikin lemes, dan memang faktanya makan mie itu menyebabkan tubuh akan cepat merasa lapar kembali. Kalau sudar overload, bisa diare juga. Akhirnya, saya benar-benar membatasi konsumsi mie.
Nah, kalau minuman, dulu senang banget konsumsi kopi, apalagi waktu bergadang (maklum, siang hari digunakan untuk aktivitas di luar rumah, malamnya tugas seabrek..). Memang, kantuknya tertahan sampai dini hari. Tapi, lama kelamaan, jantung sering berdebar-debar dan frekuensi BAK lebih sering (setengah jam sekali). Ini adalah dampak minum kopi bagi orang-orang yang sensitif, karena ada temen yang minum 3 gelas kopi perhari tak ada efek sama sekali. Pernah mencoba tes darah, ternyata dalam darah terdapat banyak kristal. Kristal ini disebabkan karena kurang minum air putih, banyak minum air berwarna pula, contohnya kopi tadi. Dan sejak itu, stop for coffee!
Inilah beberapa alasan kenapa saya seringnya tak jajan di lapak-lapak pinggir jalan, mending menahan lapar dan makan di rumah. Insya Allah lebih terjamin.
Sekedar info juga: di bawah Grojogan Sewu Tawangmangu, ada lapak-lapak sate kelinci. Tapi, penjualnya kurang menjaga food hygienenya. Air pencuci alat makan kurang bersih, entah sumbernya dari mana (mungkin dari Grojogan itu juga). Dan yang pasti, tusuk sate yang digunakan adalah tusuk sate bekas. Maksudnya, misal kita telah menghabiskan seporsi sate kelinci. Nah, pasti tusuk sate kita biarkan saja di piring kan. Ternyata, tusuk-tusuk tersebut dikumpulkan, dicuci, dan digunakan lagi. Masya Allah. Jadi, tipsnya adalah jika selesai konsumsi sate, tusuk sate dipatahkan saja, pasti tidak akan dipakai lagi (berlaku juga untuk tusuk gigi, hee). Dan ini hanya kasuistis, entah yang lainnya. Semoga menjadi kehati-hatian kita juga.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar: