Siapa ya yang
tak doyan makan? Kayaknya semua orang doyan makan, cuma bedanya adalah ada tipe
orang yang doyan makan itu tak tanggung-tanggung, alias semua bisa masuk perut,
hehe. Ada juga yang doyan makan tipe pilih-pilih, ini bagi orang yang perutnya
sensitif. Ada pula yang mencoba tak doyan makan, katanya diet begitu.
Cerita tentang
makanan, pasti setiap hari kita menemuinya. Buat orang Indonesia, menu utama
biasanya nasi, terkadang bisa roti juga. Kalau kita sedang keluar, biasanya
suka jajan kan. Warung makan berjejer di pinggir jalan seakan melambai-lambai
untuk dikunjungi, dan kita terpesona untuk melewatkannya. Mie ayam, bakso,
tongseng, sate, gulai, soto, siomay, batagor, ketoprak, dan kawan-kawannya. Es campur,
kelapa muda, es pisang ijo, jenang grendul, dan sahabat-sahabat mereka.
Bagi pribadi,
jajanan tadi memang sangat menggiurkan juga. Misal lagi panas-panasnya siang
hari, pasti enak sekali minum es campur. Atau kalau lagi hujan, enaknya minum
kopi atau makan bakso, hehe. Kadang pula pengen banget makan di bebakaran atau
lapak pinggir pantai. Tapi ternyata, saya adalah orang yang sangat sensitif terhadap
makanan-minuman yang saya konsumsi.
Suatu kali,
pernah ke satu pantai di sudut Bantul bersama kawan-kawan kelas. Rasanya seneng
banget bisa jalan-jalan bersama sambil menikmati ikan bakar. Pikir saya, kan
ikan lebih sehat dibanding ayam atau daging, jadi tak apa lah. Memang awalnya
baik-baik saja, tapi begitu sampai rumah, mendadak perut protes. Seakan ia tak mau
mencerna ikan bakar itu. Wallahu a’lam.
Kali kedua,
dalam sehari saya jajan bakso dua kali, hehe. Karena ditraktir, masak ya
ditolak, kan rejeki. Sore hari tiba-tiba badan berasa tak nyaman dan malam
harinya demam dan muntah-muntah. Nah, mungkin ini adalah cara-NYA untuk menjaga
sehatnya tubuh. Coba cermati saja kalau penjual bakso-bakso biasa meracik
semangkuk pesanan kita, pasti mereka bumbui dengan MSG, bumbu masak kata orang
ndeso. Nah, yang ini kalau kebanyakan bikin rusak otak kita (silakan pembaca cari
artikel sendiri ya terkait ini, hehe). Kalau orang yang sensitif, biasanya dia
langsung pusing, bahkan ada yang sampai pingsan juga. Hiiiii, masyaAllah.
Kesempatan lain,
saya terkadang tergiur juga dengan mie instan. Bagaimana tidak? Kemunculan
iklannya yang berkali-kali dalam sehari itu membuat otak kita memerintah untuk
mencoba. Awalnya, ah, cuma sekali ini doang. Selanjutnya, ah kan cuma
jarang-jarang kok. Lama-kelamaan jadi ketagihan. Dulu memang sempat ketagihan
mie instan, sepekan bisa sampai tiga kali (ini sudah terlalu banyak kawan!).
Apalagi kalau pas puasa ramadhan, ibu dengan sengaja menyediakan satu dus untuk
satu bulan. Suatu saat, perut benar-benar menolak berbagai jenis mie, terutama
mie instan dan mie ayam. Perut dibuat melilit bak diperas. Sakitnya bikin
lemes, dan memang faktanya makan mie itu menyebabkan tubuh akan cepat merasa
lapar kembali. Kalau sudar overload, bisa diare juga. Akhirnya, saya
benar-benar membatasi konsumsi mie.
Nah, kalau
minuman, dulu senang banget konsumsi kopi, apalagi waktu bergadang (maklum, siang
hari digunakan untuk aktivitas di luar rumah, malamnya tugas seabrek..). Memang,
kantuknya tertahan sampai dini hari. Tapi, lama kelamaan, jantung sering
berdebar-debar dan frekuensi BAK lebih sering (setengah jam sekali). Ini adalah
dampak minum kopi bagi orang-orang yang sensitif, karena ada temen yang minum 3
gelas kopi perhari tak ada efek sama sekali. Pernah mencoba tes darah, ternyata
dalam darah terdapat banyak kristal. Kristal ini disebabkan karena kurang minum
air putih, banyak minum air berwarna pula, contohnya kopi tadi. Dan sejak itu, stop for coffee!
Inilah beberapa
alasan kenapa saya seringnya tak jajan di lapak-lapak pinggir jalan, mending
menahan lapar dan makan di rumah. Insya Allah lebih terjamin.
Sekedar info
juga: di bawah Grojogan Sewu Tawangmangu, ada lapak-lapak sate kelinci. Tapi,
penjualnya kurang menjaga food hygienenya. Air pencuci alat makan kurang bersih,
entah sumbernya dari mana (mungkin dari Grojogan itu juga). Dan yang pasti,
tusuk sate yang digunakan adalah tusuk sate bekas. Maksudnya, misal kita telah
menghabiskan seporsi sate kelinci. Nah, pasti tusuk sate kita biarkan saja di
piring kan. Ternyata, tusuk-tusuk tersebut dikumpulkan, dicuci, dan digunakan
lagi. Masya Allah. Jadi, tipsnya adalah jika selesai konsumsi sate, tusuk sate
dipatahkan saja, pasti tidak akan dipakai lagi (berlaku juga untuk tusuk gigi,
hee). Dan ini hanya kasuistis, entah yang lainnya. Semoga menjadi kehati-hatian
kita juga.
Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar