Pages

Ads 468x60px

Minggu, 17 Maret 2013

Kisah 'Adik' Saya


Sebagai anak bontot, saya hanya pernah merasakan sebagai adik saja. Dulu, saya (sebagai anak terkecil) pernah marah ketika dimintai tolong sama ibu. Diminta tolong antar makanan ke simbah, diminta beli cabai atau bumbu dapur lainnya. Dongkol banget, kenapa sih selalu saya yang disuruh? Kan ada kakak, heuhhh. Keluh saya saat itu. Pikir-pikir, enak ya jadi kakak, ndak bakal disuruh-suruh…
Itu dulu…
Sekarang, saat mereka, kedua kakak saya sudah jauh, akhirnya saya merasa kangen dengan masa kecil itu, hehe.
Alhamdulillah, walau tidak punya adik kandung, tapi saya punya banyak adik spesial, layaknya keluarga sendiri….
Kelompok pertama adalah keponakan saya. Alhamdulillah, di usia saya yang ke 22 ini sudah punya empat ponakan: paling gedhe kelas lima SD, di bawahnya TK 0 kecil, umur tiga tahun 3 bulan dan terakhir masih unyu-unyu usia satu tahun tanggal 9 Maret lalu.
Kalau sedang bersama mereka, selalu dibelajarkan tentang parenting. Subhanallah, banyak belajarlah pokoknya. Yang paling sering adalah melatih kesabaran kita. Terkadang, polah tingkah anak kecil membuat kita-para orang tua atau setidaknya yang berusia lebih tua daripada anak tersebut- frustasi. Bagaimana tidak? Si kakak pergi main sendiri sedang adik pengen ikut. Eee, sang kakak ndak mau kalau adik ikut main. Alhasil deh nangis. Sedang sang ibu sedang repot urusan rumah tangga, masak-nyuci-beresin rumah, dkk. Ayah pergi mencari nafkah. Bayangkan, si kakak ngeyel, si adik terus nangis.
Atau si kakak pengen ditemeni nonton TV atau bermain sama ibunya. Sedang sang adik, yang masih bayi juga rewel karena sakit. Sang kakak keukeuh ibu ndak boleh ngurus adik. Nah lho….pusing???
Tik tok tik tok, terkadang akhirnya emosi negatif pun muncul juga. Sedikit marah atau meledak. Heheee, ini pengamatan saya. Ada juga yang akhirnya sang ibu mengayunkan lambaian tangannya, entah mencubit, menjewer atau menabok sang anak. Saya tidak banyak comment, biasanya hanya diam. and thinking about this! Parenting.
Ini pelajaran berharga bagi saya kelak, harus dipersiapkan mental dengan matang dengan kehadiran buah hati, inshaAllah. Bagaimana tetap santun ketika sang anak tidak sesuai keinginan kita. Bagaimana melepas emosi dan membentangkan kesabaran. Bagaimana pula mengajari si anak, beriman dan berakhlak baik, PD dan tidak penakut, berjiwa sosial yang tinggi dan berbakti pada orang tua.
Ada kisah, sewaktu saya pulang hari Sabtu ba’da maghrib. Ketika di jalan kampung yang gelap (lampu jalan dan rumah di dekat situ mati), saya melihat di depan saya ada sesosok anak kecil. Buram, wong gelap cuma disinari lampu motor saya. Ealah, ternyata itu ponakan saya, kondisi sedang nangis dan sendiri.
Sesampai di rumah, tak antar ke ibunya (mbak ipar saya) yang juga sedang berniat mau menjemput. Usut punya usut, ternyata sang kakak yang diminta jemput malah pulang duluan, katanya tadi belum selesai solatnya. Sedang mbah uti juga tidak berangkat ke masjid karena sedang pergi. Saya sendiri ada agenda rutin tiap Sabtu sore. Ponakan saya pun nekad pulang sendiri karena temannya yang biasa bareng: masih di masjid, belum mau pulang.
Perasaan saya kacau. Antara sedih dan marah terhadap diri sendiri, yang belum bisa utuh hadir di rumah. Belum sepenuhnya bisa mendampingi keluarga terdekat untuk bersama-sama mendekat ke Allah.

Oke, lanjut kelompok kedua. Adalah adik-adik les saya.
Ada namanya Maria Jessica Advien Samanta. Hayooo, pasti pada mikir ini anak orang non-I ya? Kalau husnuzhon Islam, alhamdulillah. Karena dia memang Islam lho! Tetapi memang muallaf, baru ketika akan naik kelas empat dia dan keluarga masuk Islam.
Dia adalah murid privat pertama saya di bimbel. Anaknya cukup cerdas, jadi kadang saya yang kewalahan ngajar dia, karena materi dasar sudah dipahami. Awal-awal belajar dulu sering pakai syarat, nanti setelah belajar saya harus ngijinin dia mainan laptop saya. Entah cuma minta diajari gambar atau ngetik, eh akhirnya keranjingan nge-game setelah dia menemukan file game bawaan windows. NB: saya tidak suka game, jadi sebelum dia tahu file game itu, saya tidak pernah buka sekalipun laptop sudah dipunyai satu tahun lebih, heheheeee.
Mulanya cuma cerita tentang syurga dan neraka, dan dia kepincut pengen bisa baca Qur’an. Maklum, kelas empat sudah ada pelajaran PAI tentang surat-surat pendek. Dan dia satu-satunya yang belum bisa baca tu rangkaian huruf Arab. Oke, saya hadiahkan dia satu buku Iqra 1-6 dan juz amma yang ada tulisan latinnya, hehee.
Jadi, sekitar 15 menit dari jam les biasa digunakan untuk belajar Iqra, sambil setor hafalan. Alhamdulillah Al Kautsar beres, sambil meluruskan bacaan Al Fatihah, minimal nanti dia bisa buat bacaan sholatnya. Lanjut Al Kafirun dulu. Setelah itu baru An-Nasr dan Al Lahab. Loncat-loncat tapi ya tak apa. Saya ikuti saja maunya, kan tidak ada yang melarang…
Saat ini saya tidak lagi ngajar dia, dulu di amau lanjut les asal yang ngeles tetep saya. Dan pas terakhir minta dicarikan ganti saya (karena sudah tidak ada waktu yang matching dengan waktu kosongnya dia) Advien punya syarat khusus: pokoknya cari mbaknya yang sabar kayak Mbak lho…
Subhanallah, padahal, saya merasa diri ini masih belum ada apa-apanya jika ditantang tentang kesabaran. Kuncinya hanya: ikhlas saja, memohon kepada-Nya agar apa yang kita sampaikan menjadi ilmu yang manfaat dan menjadi jariyah-bekal akhirat kita.
---Semangat Ngumpulin Bekal Buat Akhirat---
Oke, kelompok kedua adik les saya adalah ada Ridwan-Najib. Dulunya mereka berlima, tapi akhirnya cuma bertahan dua orang ini. Dua bocah super. Yang satu pendiam rada pintar, yang satu rada usil. Dulu, Ridwan les privat dengan tentor yang lain, tapi kemudian di pengen ada temennya sehingga digabung dengan Najib. Oke, setiap awal ketemu dengan murid, saya pasti bertanya kondisi akademik mereka (haha, mentang-mentang anak ‘ilmy kali ya…). Terus tanya juga mereka cita-cita akademiknya gimana, besok mau rangking berapa, mau jadi apa. Walau yang saya pahami memang tidak bagus juga kita menanamkan nilai sekedar prestasi akademik saja, tapi sepanjang pengalaman saya, hal itu dibutuhkan juga. Ketika nanti hasilnya lain, baru nanti kita putar strategi.
Pergantian awal semester, sebenarnya mereka mau les lagi, tapi permintaannya satu: tentornya dengan saya. Sayangnya, saya sudah limit waktu sore harinya, terlebih amanah juga tidak hanya satu, khawatir saya malah overload (dan ini benar-benar saya alami, overload hingga sempat stress, hehe). Maafkan mbak ya, belum bisa mendampingi kalian terus menerus…
Lanjut ke si adik dengan nama Reva Erlangga. Kalau dia, saya ngeles di rumahnya di daerah Mlati. Sewaktu saya menjajagi kemampuan awalnya, dia tipe anak yang secara psikologis: punya ketakutan, entah apa, karena sampai saat ini saya belum tahu. Dia sulit sekali konsentrasi dan fokus membaca. Senang dengan menggambar dan bercerita yang kadang mengada-ada (dia kayaknya banyak terimajinasi dari film-kartun yang ditontonnya).
Paling paham di pelajaran yang konkrit, buat prakarya misalnya dan sedikit matematika. Kalau IPS, PKn, masih sering kebalik-balik dan lupa. Di pelajaran bahasa, dia belum paham tentang makna kata tanya, istilah baru (kalau ini bisa dimaklumi, kita aja juga begitu kan??) dan terkadang kurang bisa memahami keseluruhan makna bacaan.
Dan terakhir les kemarin, saya dan ibunya berbincang agak serius. Buat persiapan mental saya juga sih, kata beliau: “sepertinya mas Erlang (panggilan Reva Erlangga) belum bisa dinaikkan kelas kata gurunya. Masih banyak yang ketinggalan dan khawatir kalau dinaikkan malah tambah beban buat anak juga. Pelajaran kelas empat sudah rumit .”
Glek. Saya yang sedang minum teh seakan tak mau menelan minuman manis itu. What? Tidak naik kelas? Seumur saya, belum pernah mengalami nasib tersebut, alhamdulillah. Dan sekarang, saya merasa adik les saya, yang semakin hari semakin saya anggap adik saya sendiri, sudah ada niatan dari gurunya untuk tidak dinaikkan. Salahnya apa?
Dunia tidak akan runtuh kawan, meski harus tinggal kelas, batin saya menepis. Masih ada beberapa bulan untuk membuktikan takdir Allah. Dan saat ini, saya pun masih berusaha untuk mengubah nasib dia dengan realita kondisi seperti ini. Hanyalah usaha dan kekuatan doa yang akan membuktikan kelak. Yukk, kita berjuang dan belajar sama-sama ya. Yukk kita perkuat kedekatan kita pada-Nya, memohon kemudahan dan pertolongan Allah.
Dan perbincangan berakhir dengan permintaan sang ibu kepada saya untuk bersedia mendampingi Erlang meski kelak tidak naik kelas. Jika nanti memang tidak bisa naik kelas, beliau akan minta tambah hari lesnya. Bismillah, memang tidak bisa instan untuk mendidik anak dengan kemampuan yang dibawah rata-rata.
Saya bersyukur, saya sejak SD-SMA bersama dengan orang-orang yang ‘above the average’. Saya katakan, teman saya banyak yang excellent. Dan kini, saya bersama dengan adik-adik yang membutuhkan gairah besar untuk bisa juga menjadi orang excellent, mungkin tidak hanya kemampuan otaknya saja, tapi lebih ke spiritual-emosional kali ya…
Toh, saya diingatkan juga sejarah Thomas A. Edison yang tidak lulus sekolah dasar kok…
Dua lagi adik les saya adalah Puan Gading Puti Osa Indras Wari dan Tata Puspita. Panggilannya dhek Osa dan dhek Tata, mereka masih itungan sodara satu sama lain. Dhek Osa kelas tiga dan dhek Tata kelas dua (seharusnya dia sudah kelas tiga). Rumahnya juga cuma sebelahan.
Dhek Osa, anaknya lumayan cerdas juga tapi rada manja. Pertama kali kenal saya, dia langsung kesengsem dengan saya. Kalau lama tidak les (saya sakit dan di hari les mesti hujan lebat), dia mesti telepon. Seringnya saya sedang tidak tahu kalau dia telepon, hehe. Sering bilang: “mbak kangen e, mbak aku sering nangis lho kalau kangen sama mbak…” Hihi, ada-ada saja ya.
Sewaktu saya akan ngeles dhek Tata pertama kali, wuih, subhanallah, dhek Osa jealousnya minta ampun, sepanjang les dia belajar sambil peluk saya. Dan sering mencium saya (eittss, saya belum mandi lho, hehe…bercanda).
Sementara dhek Tata, menurut analisis saya dia juga punya hambatan belajar. Sulit konsentrasi, mudah lupa, tidak bisa membayangkan sesuatu yang abstrak dan sedikit hiperaktif. Jadi, tidak bisa fokus pada kegiatan belajar. Baru mengerjakan satu soal, nanti cerita, kemudian beralih ke mainan atau pelajaran lainnya. Kondisi ini didukung dengan ruang belajar yang tidak memadai, menurut saya. Alhasil, belajar tambah kacau, saya hanya bertahan maksimal satu jam lebih lima belas menit bersamanya. Selebihnya, buyar sudah.
Karena rumahnya sedang diperbaiki, kita belajar lesehan di kamar dengan satu meja belajar. Kamar itu untuk dia-adiknya dan kakaknya. Yang namanya kamar, pasti buat tidur juga kan. Nah, kalau ini, banyak hal yang bisa dilakukan. belajar, tidur, ganti baju, mainan, nonton televisi lewat TV combo, makan pun jadi. Alamak, masyaAllah.
Jika saja belajarnya tidak malam hari, sudah barang tentu dhek Tata ini saya ajak ke tempat yang lebih memadai untuk belajar, lapangan mungkin (yang teduh dan sepoi-sepoi maksudnya, pun itu kalau ada tempatnya, hehe). Buku-buku dia sebenarnya ada di rak buku dan di tas, tapi subhanallah. Seringnya buku nyelip entah di belakang lemari, di bawa si adik (suka ikut-ikutan belajar padahal menurut saya ya lumayan mengganggu juga…)
Saya tidak akan menggunakan jurus “dimarahi” untuk adik-adik saya ini. Mereka adalah anak-anak yang spesial, unik. Tidak perlu dimarahi, hanya perlu dipahamkan. Kalau saya, biasanya jika mereka sudah kelewat, tinggal ditanya: “oke, jadinya mau belajar apa mau main? Kalau ndak mau belajar, ya sudah mbak pulang.” Semoga ini bukan ancaman, tapi menanamkan kebutuhan kepada mereka untuk belajar.



Tidak ada komentar: