Sebagai anak bontot, saya hanya pernah
merasakan sebagai adik saja. Dulu, saya (sebagai anak terkecil) pernah marah
ketika dimintai tolong sama ibu. Diminta tolong antar makanan ke simbah,
diminta beli cabai atau bumbu dapur lainnya. Dongkol banget, kenapa sih selalu
saya yang disuruh? Kan ada kakak, heuhhh. Keluh saya saat itu. Pikir-pikir, enak
ya jadi kakak, ndak bakal disuruh-suruh…
Itu dulu…
Sekarang, saat mereka, kedua kakak
saya sudah jauh, akhirnya saya merasa kangen dengan masa kecil itu, hehe.
Alhamdulillah, walau tidak punya adik
kandung, tapi saya punya banyak adik spesial, layaknya keluarga sendiri….
Kelompok pertama adalah keponakan
saya. Alhamdulillah, di usia saya yang ke 22 ini sudah punya empat ponakan:
paling gedhe kelas lima SD, di bawahnya TK 0 kecil, umur tiga tahun 3 bulan dan
terakhir masih unyu-unyu usia satu tahun tanggal 9 Maret lalu.
Kalau sedang bersama mereka, selalu
dibelajarkan tentang parenting.
Subhanallah, banyak belajarlah pokoknya. Yang paling sering adalah melatih
kesabaran kita. Terkadang, polah tingkah anak kecil membuat kita-para orang tua
atau setidaknya yang berusia lebih tua daripada anak tersebut- frustasi.
Bagaimana tidak? Si kakak pergi main sendiri sedang adik pengen ikut. Eee, sang
kakak ndak mau kalau adik ikut main. Alhasil deh nangis. Sedang sang ibu sedang
repot urusan rumah tangga, masak-nyuci-beresin rumah, dkk. Ayah pergi mencari
nafkah. Bayangkan, si kakak ngeyel, si adik terus nangis.
Atau si kakak pengen ditemeni nonton
TV atau bermain sama ibunya. Sedang sang adik, yang masih bayi juga rewel
karena sakit. Sang kakak keukeuh ibu ndak boleh ngurus adik. Nah lho….pusing???
Tik tok tik tok, terkadang akhirnya
emosi negatif pun muncul juga. Sedikit marah atau meledak. Heheee, ini
pengamatan saya. Ada juga yang akhirnya sang ibu mengayunkan lambaian
tangannya, entah mencubit, menjewer atau menabok sang anak. Saya tidak banyak comment, biasanya hanya diam. and thinking about this! Parenting.
Ini pelajaran berharga bagi saya
kelak, harus dipersiapkan mental dengan matang dengan kehadiran buah hati,
inshaAllah. Bagaimana tetap santun ketika sang anak tidak sesuai keinginan
kita. Bagaimana melepas emosi dan membentangkan kesabaran. Bagaimana pula
mengajari si anak, beriman dan berakhlak baik, PD dan tidak penakut, berjiwa
sosial yang tinggi dan berbakti pada orang tua.
Ada kisah, sewaktu saya pulang hari
Sabtu ba’da maghrib. Ketika di jalan kampung yang gelap (lampu jalan dan rumah
di dekat situ mati), saya melihat di depan saya ada sesosok anak kecil. Buram,
wong gelap cuma disinari lampu motor saya. Ealah, ternyata itu ponakan saya,
kondisi sedang nangis dan sendiri.
Sesampai di rumah, tak antar ke ibunya
(mbak ipar saya) yang juga sedang berniat mau menjemput. Usut punya usut,
ternyata sang kakak yang diminta jemput malah pulang duluan, katanya tadi belum
selesai solatnya. Sedang mbah uti juga tidak berangkat ke masjid karena sedang
pergi. Saya sendiri ada agenda rutin tiap Sabtu sore. Ponakan saya pun nekad
pulang sendiri karena temannya yang biasa bareng: masih di masjid, belum mau
pulang.
Perasaan saya kacau. Antara sedih dan
marah terhadap diri sendiri, yang belum bisa utuh hadir di rumah. Belum
sepenuhnya bisa mendampingi keluarga terdekat untuk bersama-sama mendekat ke
Allah.
Oke, lanjut kelompok kedua. Adalah
adik-adik les saya.
Ada namanya Maria Jessica Advien
Samanta. Hayooo, pasti pada mikir ini anak orang non-I ya? Kalau husnuzhon
Islam, alhamdulillah. Karena dia memang Islam lho! Tetapi memang muallaf, baru
ketika akan naik kelas empat dia dan keluarga masuk Islam.
Dia adalah murid privat pertama saya
di bimbel. Anaknya cukup cerdas, jadi kadang saya yang kewalahan ngajar dia,
karena materi dasar sudah dipahami. Awal-awal belajar dulu sering pakai syarat,
nanti setelah belajar saya harus ngijinin dia mainan laptop saya. Entah cuma
minta diajari gambar atau ngetik, eh akhirnya keranjingan nge-game setelah dia menemukan file game
bawaan windows. NB: saya tidak suka game, jadi sebelum dia tahu file game itu,
saya tidak pernah buka sekalipun laptop sudah dipunyai satu tahun lebih,
heheheeee.
Mulanya cuma cerita tentang syurga dan
neraka, dan dia kepincut pengen bisa baca Qur’an. Maklum, kelas empat sudah ada
pelajaran PAI tentang surat-surat pendek. Dan dia satu-satunya yang belum bisa
baca tu rangkaian huruf Arab. Oke, saya hadiahkan dia satu buku Iqra 1-6 dan
juz amma yang ada tulisan latinnya, hehee.
Jadi, sekitar 15 menit dari jam les
biasa digunakan untuk belajar Iqra, sambil setor hafalan. Alhamdulillah Al
Kautsar beres, sambil meluruskan bacaan Al Fatihah, minimal nanti dia bisa buat
bacaan sholatnya. Lanjut Al Kafirun dulu. Setelah itu baru An-Nasr dan Al
Lahab. Loncat-loncat tapi ya tak apa. Saya ikuti saja maunya, kan tidak ada
yang melarang…
Saat ini saya tidak lagi ngajar dia, dulu
di amau lanjut les asal yang ngeles tetep saya. Dan pas terakhir minta dicarikan
ganti saya (karena sudah tidak ada waktu yang matching dengan waktu kosongnya dia) Advien punya syarat khusus:
pokoknya cari mbaknya yang sabar kayak Mbak lho…
Subhanallah, padahal, saya merasa diri
ini masih belum ada apa-apanya jika ditantang tentang kesabaran. Kuncinya
hanya: ikhlas saja, memohon kepada-Nya agar apa yang kita sampaikan menjadi
ilmu yang manfaat dan menjadi jariyah-bekal akhirat kita.
---Semangat Ngumpulin Bekal Buat
Akhirat---
Oke, kelompok kedua adik les saya
adalah ada Ridwan-Najib. Dulunya mereka berlima, tapi akhirnya cuma bertahan
dua orang ini. Dua bocah super. Yang satu pendiam rada pintar, yang satu rada
usil. Dulu, Ridwan les privat dengan tentor yang lain, tapi kemudian di pengen
ada temennya sehingga digabung dengan Najib. Oke, setiap awal ketemu dengan
murid, saya pasti bertanya kondisi akademik mereka (haha, mentang-mentang anak ‘ilmy
kali ya…). Terus tanya juga mereka cita-cita akademiknya gimana, besok mau
rangking berapa, mau jadi apa. Walau yang saya pahami memang tidak bagus juga
kita menanamkan nilai sekedar prestasi akademik saja, tapi sepanjang pengalaman
saya, hal itu dibutuhkan juga. Ketika nanti hasilnya lain, baru nanti kita
putar strategi.
Pergantian awal semester, sebenarnya
mereka mau les lagi, tapi permintaannya satu: tentornya dengan saya. Sayangnya,
saya sudah limit waktu sore harinya, terlebih amanah juga tidak hanya satu,
khawatir saya malah overload (dan ini benar-benar saya alami, overload hingga
sempat stress, hehe). Maafkan mbak ya, belum bisa mendampingi kalian terus
menerus…
Lanjut ke si adik dengan nama Reva
Erlangga. Kalau dia, saya ngeles di rumahnya di daerah Mlati. Sewaktu saya
menjajagi kemampuan awalnya, dia tipe anak yang secara psikologis: punya
ketakutan, entah apa, karena sampai saat ini saya belum tahu. Dia sulit sekali
konsentrasi dan fokus membaca. Senang dengan menggambar dan bercerita yang kadang
mengada-ada (dia kayaknya banyak terimajinasi dari film-kartun yang
ditontonnya).
Paling paham di pelajaran yang
konkrit, buat prakarya misalnya dan sedikit matematika. Kalau IPS, PKn, masih
sering kebalik-balik dan lupa. Di pelajaran bahasa, dia belum paham tentang
makna kata tanya, istilah baru (kalau ini bisa dimaklumi, kita aja juga begitu
kan??) dan terkadang kurang bisa memahami keseluruhan makna bacaan.
Dan terakhir les kemarin, saya dan
ibunya berbincang agak serius. Buat persiapan mental saya juga sih, kata beliau:
“sepertinya mas Erlang (panggilan Reva Erlangga) belum bisa dinaikkan kelas
kata gurunya. Masih banyak yang ketinggalan dan khawatir kalau dinaikkan malah
tambah beban buat anak juga. Pelajaran kelas empat sudah rumit .”
Glek. Saya yang sedang minum teh
seakan tak mau menelan minuman manis itu. What?
Tidak naik kelas? Seumur saya, belum pernah mengalami nasib tersebut,
alhamdulillah. Dan sekarang, saya merasa adik les saya, yang semakin hari
semakin saya anggap adik saya sendiri, sudah ada niatan dari gurunya untuk
tidak dinaikkan. Salahnya apa?
Dunia tidak akan runtuh kawan, meski
harus tinggal kelas, batin saya menepis. Masih ada beberapa bulan untuk
membuktikan takdir Allah. Dan saat ini, saya pun masih berusaha untuk mengubah
nasib dia dengan realita kondisi seperti ini. Hanyalah usaha dan kekuatan doa yang
akan membuktikan kelak. Yukk, kita berjuang dan belajar sama-sama ya. Yukk kita
perkuat kedekatan kita pada-Nya, memohon kemudahan dan pertolongan Allah.
Dan perbincangan berakhir dengan
permintaan sang ibu kepada saya untuk bersedia mendampingi Erlang meski kelak
tidak naik kelas. Jika nanti memang tidak bisa naik kelas, beliau akan minta
tambah hari lesnya. Bismillah, memang tidak bisa instan untuk mendidik anak
dengan kemampuan yang dibawah rata-rata.
Saya bersyukur, saya sejak SD-SMA
bersama dengan orang-orang yang ‘above
the average’. Saya katakan, teman saya banyak yang excellent. Dan kini, saya bersama dengan adik-adik yang membutuhkan
gairah besar untuk bisa juga menjadi orang excellent,
mungkin tidak hanya kemampuan otaknya saja, tapi lebih ke spiritual-emosional
kali ya…
Toh, saya diingatkan juga sejarah
Thomas A. Edison yang tidak lulus sekolah dasar kok…
Dua lagi adik les saya adalah Puan
Gading Puti Osa Indras Wari dan Tata Puspita. Panggilannya dhek Osa dan dhek
Tata, mereka masih itungan sodara satu sama lain. Dhek Osa kelas tiga dan dhek
Tata kelas dua (seharusnya dia sudah kelas tiga). Rumahnya juga cuma sebelahan.
Dhek Osa, anaknya lumayan cerdas juga
tapi rada manja. Pertama kali kenal saya, dia langsung kesengsem dengan saya.
Kalau lama tidak les (saya sakit dan di hari les mesti hujan lebat), dia mesti
telepon. Seringnya saya sedang tidak tahu kalau dia telepon, hehe. Sering
bilang: “mbak kangen e, mbak aku sering nangis lho kalau kangen sama mbak…”
Hihi, ada-ada saja ya.
Sewaktu saya akan ngeles dhek Tata
pertama kali, wuih, subhanallah, dhek Osa jealousnya
minta ampun, sepanjang les dia belajar sambil peluk saya. Dan sering mencium
saya (eittss, saya belum mandi lho, hehe…bercanda).
Sementara dhek Tata, menurut analisis
saya dia juga punya hambatan belajar. Sulit konsentrasi, mudah lupa, tidak bisa
membayangkan sesuatu yang abstrak dan sedikit hiperaktif. Jadi, tidak bisa
fokus pada kegiatan belajar. Baru mengerjakan satu soal, nanti cerita, kemudian
beralih ke mainan atau pelajaran lainnya. Kondisi ini didukung dengan ruang
belajar yang tidak memadai, menurut saya. Alhasil, belajar tambah kacau, saya
hanya bertahan maksimal satu jam lebih lima belas menit bersamanya. Selebihnya,
buyar sudah.
Karena rumahnya sedang diperbaiki,
kita belajar lesehan di kamar dengan satu meja belajar. Kamar itu untuk
dia-adiknya dan kakaknya. Yang namanya kamar, pasti buat tidur juga kan. Nah,
kalau ini, banyak hal yang bisa dilakukan. belajar, tidur, ganti baju, mainan,
nonton televisi lewat TV combo, makan pun jadi. Alamak, masyaAllah.
Jika saja belajarnya tidak malam hari,
sudah barang tentu dhek Tata ini saya ajak ke tempat yang lebih memadai untuk
belajar, lapangan mungkin (yang teduh dan sepoi-sepoi maksudnya, pun itu kalau
ada tempatnya, hehe). Buku-buku dia sebenarnya ada di rak buku dan di tas, tapi
subhanallah. Seringnya buku nyelip entah di belakang lemari, di bawa si adik
(suka ikut-ikutan belajar padahal menurut saya ya lumayan mengganggu juga…)
Saya tidak akan menggunakan jurus “dimarahi”
untuk adik-adik saya ini. Mereka adalah anak-anak yang spesial, unik. Tidak
perlu dimarahi, hanya perlu dipahamkan. Kalau saya, biasanya jika mereka sudah
kelewat, tinggal ditanya: “oke, jadinya mau belajar apa mau main? Kalau ndak
mau belajar, ya sudah mbak pulang.” Semoga ini bukan ancaman, tapi menanamkan
kebutuhan kepada mereka untuk belajar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar